Indonesia
Kokas adalah sebuah pemukiman pesisir kecil di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Indonesia, terletak di tepi selatan Semenanjung Kepala Burung — salah satu daerah dengan keanekaragaman hayati tertinggi dan paling sedikit dijelajahi di Bumi. Sudut terpencil dari Papua Nugini ini, jauh dari jalur wisata Bali dan Jawa, adalah gerbang menuju lanskap di mana terumbu karang yang kaya, tebing kapur karst yang menjulang tinggi, dan galeri seni batu kuno bertemu dalam lingkungan alam dan budaya yang hanya akan dilihat oleh sedikit pelancong. Perairan pantai Fakfak adalah bagian dari Segitiga Terumbu Karang — pusat global keanekaragaman hayati laut, yang mengandung lebih banyak spesies karang dan ikan terumbu daripada di tempat lain di planet ini.
Seni batu di Kokas dan garis pantai Fakfak yang mengelilinginya adalah salah satu yang paling signifikan dan misterius di Pasifik. Dicat di permukaan tebing kapur yang menjulang langsung dari laut, gambar-gambar — terutama stensil tangan dalam warna oker merah, bersama dengan sosok manusia bergaya, ikan, dan pola geometris — diyakini berasal dari ribuan tahun yang lalu, meskipun penanggalan yang tepat tetap sulit dilakukan. Stensil tangan, yang dibuat dengan menekan tangan ke batu dan meniup pigmen di sekitarnya, mewakili salah satu dorongan artistik manusia yang paling universal dan kuno — teknik yang sama yang digunakan oleh seniman Paleolitik di gua-gua di Prancis dan Spanyol. Mencapai situs seni ini memerlukan perjalanan dengan perahu sepanjang pantai, menjelajahi di bawah tebing-tebing yang menjulang di mana lukisan-lukisan itu muncul dari kapur seperti pesan dari zaman sebelum tulisan.
Lingkungan laut di lepas Kokas sangat luar biasa bahkan menurut standar Segitiga Terumbu Karang. Terumbu yang mengelilingi Semenanjung Fakfak mendukung lebih dari 400 spesies karang keras — lebih banyak daripada seluruh Karibia digabungkan — dan keragaman ikan yang ada juga sangat besar: ikan kupu-kupu, ikan malaikat, ikan kerapu, ikan napoleon, dan ikan pari manta yang meluncur di antara saluran-saluran antara dinding terumbu dengan gerakan anggun yang lambat. Perairan ini juga menjadi rumah bagi populasi dugong — mamalia laut yang lembut dan herbivora yang memakan padang lamun di sepanjang pantai — serta hiu paus yang muncul secara musiman, bentuk bercak mereka melayang di antara perairan dangkal yang kaya plankton. Snorkeling dari sebuah Zodiac di atas terumbu ini mengungkapkan dunia bawah laut yang penuh warna dan kompleksitas yang menyaingi Raja Ampat.
Tanah di belakang Kokas tertutup oleh hutan hujan tropis yang lebat di dataran rendah New Guinea — sebuah harta biologi yang menyimpan burung cenderawasih, kanguru pohon, dan kupu-kupu terbesar di dunia, sayap burung Ratu Alexandra, meskipun yang terakhir ditemukan lebih jauh ke timur. Kombinasi geologi batu kapur karst dan iklim tropis di wilayah Fakfak menciptakan lanskap menakjubkan dengan menara dramatis, lubang tenggelam, dan gua yang telah digunakan sebagai tempat berlindung dan situs pemakaman oleh komunitas Papua selama ribuan tahun. Keberagaman budaya di wilayah ini sangat besar — puluhan kelompok bahasa yang berbeda menghuni Semenanjung Kepala Burung, masing-masing dengan tradisi unik dalam seni, upacara, dan pengelolaan sumber daya.
Kokas dikunjungi oleh Seabourn dalam itinerary ekspedisi kepulauan Indonesia, dengan penumpang tiba menggunakan Zodiac ke pantai pemukiman. Bulan-bulan terkering dari Oktober hingga April adalah waktu yang paling nyaman untuk berkunjung, meskipun posisi ekuatorial wilayah ini memastikan suhu hangat sepanjang tahun. Jaraknya yang terpencil di pantai Fakfak berarti bahwa kunjungan ekspedisi adalah eksplorasi sejati — pendaratan tergantung pada cuaca, pasang surut, dan kondisi lokal, dan setiap pertemuan dengan seni batu atau sistem terumbu terasa benar-benar perintis.