
Indonesia
67 voyages
Semarang, ibu kota Jawa Tengah, adalah gerbang yang tidak mencolok menuju salah satu konsentrasi monumen kuno terbesar di dunia — sebuah kota pelabuhan komersial yang luas dengan populasi 1,8 juta yang sering dilalui oleh para pelancong tanpa berhenti, perhatian mereka terfokus pada Borobudur dan Prambanan, kompleks candi yang terletak di jantung vulkanik satu atau dua jam ke selatan. Namun, Semarang sendiri memberikan imbalan bagi pengunjung yang penasaran dengan Kota Tua kolonial yang terjaga dengan luar biasa, sebuah Pecinan dengan kedalaman sejarah yang nyata, dan sebuah scene kuliner yang dianggap oleh penduduk Jawa Tengah sebagai yang terbaik di pulau ini.
Kota Lama Semarang adalah salah satu kawasan kolonial yang paling terawat di Asia Tenggara — sebuah distrik kompak yang terdiri dari bangunan era Hindia Belanda yang sebagian besar berasal dari abad ke-18 dan ke-19, dengan fasad arsitektur klasik Eropa yang diadaptasi dengan teras tropis dan atap ubin, mengingatkan kita pada era ketika Semarang merupakan pelabuhan utama dalam jaringan perdagangan VOC (Perusahaan Hindia Belanda). Gereja Blenduk, sebuah gereja Protestan berkubah yang selesai dibangun pada tahun 1753, menjadi pusat alun-alun, dikelilingi oleh bekas gudang, rumah perdagangan, dan markas perusahaan-perusahaan era kolonial. Restorasi distrik ini, setelah puluhan tahun terabaikan, telah mengubahnya menjadi kawasan budaya yang hidup dengan kafe, galeri, dan pasar akhir pekan.
Kuil Sam Poo Kong, sebuah kompleks kuil Tionghoa-Jawa yang menakjubkan, dibangun di lokasi di mana laksamana Muslim Tionghoa Zheng He dikatakan telah mendarat pada tahun 1405, mencerminkan warisan Tionghoa yang mendalam di Semarang — kota ini memiliki salah satu komunitas Tionghoa tertua dan paling terintegrasi di Indonesia, dan perpaduan elemen budaya Tionghoa, Jawa, dan Islam dalam arsitektur serta ritual kuil ini adalah ekspresi yang hidup dari identitas Jawa sinkretis yang membedakan Jawa Tengah dari budaya Islam ortodoks di daerah lain di Indonesia.
Masakan Semarang dikenal karena rasa manisnya — sebuah karakteristik yang oleh para koki Jawa dianggap sebagai pengaruh dari industri gula daerah dan yang dicatat dengan kasih sayang atau ejekan lembut oleh pengunjung dari provinsi Indonesia lainnya. Lumpia Semarang, lumpia terkenal kota ini — lebih besar, lebih renyah, dan lebih manis dibandingkan nenek moyang mereka dari Tiongkok, diisi dengan rebung, udang, dan ayam — adalah makanan jalanan khas, dijual dari gerai dan toko yang telah menyempurnakan resep ini selama beberapa generasi. Wingko babat, kue kelapa lengket, dan bandeng presto, ikan susu yang dimasak dengan tekanan di mana tulangnya yang lunak dapat dimakan, adalah spesialisasi tambahan dari Semarang. Pasar Johar dan distrik kuliner Gang Lombok mengonsentrasikan warisan kuliner kota ini di area yang dapat dijelajahi dengan berjalan kaki, yang memberikan imbalan bagi mereka yang suka mencicipi.
Ekskursi kuil dari Semarang adalah daya tarik utama bagi pengunjung kapal pesiar. Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia — sebuah mandala batu vulkanik abad ke-9 yang menjulang dari Dataran Kedu dalam sembilan teras yang mendukung 72 stupa berlubang, masing-masing berisi patung Buddha yang duduk — adalah salah satu struktur religius yang paling mengagumkan di Bumi. Prambanan, sebuah kompleks kuil Hindu abad ke-9 yang terdiri dari 240 kuil dengan menara sentral yang menjulang setinggi 47 meter, adalah pelengkap estetika dan religius Borobudur. Bersama-sama, kedua kompleks ini — satu Buddha, satu Hindu, dibangun dalam dekade yang sama — mendokumentasikan mekarnya budaya luar biasa di Jawa Tengah selama dinasti Sailendra dan Sanjaya.
Semarang dilayani oleh Oceania Cruises dan Viking dalam rute Indonesia, dengan kapal berlabuh di pelabuhan Tanjung Emas. Musim kemarau dari Mei hingga Oktober menawarkan kondisi paling nyaman untuk mengunjungi kuil, dengan bulan Juni hingga Agustus memberikan langit terjelas untuk fotografi di Borobudur dan Prambanan.

