Indonesia
Di pesisir selatan Papua yang terpencil, di mana hutan hujan tropis lebat Papua Nugini bertemu dengan Laut Arafura, Tanjung Mannguar adalah sebuah tanjung dari alam liar yang masih perawan, mewakili salah satu garis pantai terakhir yang benar-benar tak tersentuh di Asia Tenggara. Titik terpencil ini, jauh dari pemukiman atau infrastruktur yang signifikan, terletak di dalam wilayah yang kaya secara biologis — hutan-hutan di selatan Papua menyimpan spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di Bumi, dan lingkungan lautnya bersaing dengan situs penyelaman paling terkenal di Segitiga Karang.
Pemandangan di Tanjung Mannguar ditentukan oleh pertemuan hutan dan laut. Hutan hujan tropis dataran rendah, lebat dan berlapis-lapis, membentang hingga ke tepi garis pantai, kanopinya hidup dengan suara burung cendrawasih, burung enggang, dan kakaktua. Semak belukar yang hampir tidak bisa ditembus tanpa parang, menyimpan kanguru pohon, kuskus, dan kasuari — yang terakhir adalah burung besar yang tidak bisa terbang, berdiri hampir dua meter tinggi dan mendapatkan rasa hormat yang besar dari siapa pun yang menjumpainya di jalur hutan.
Tidak ada restoran atau fasilitas di Tanjung Mannguar. Kapal ekspedisi menyediakan semua kebutuhan makanan, meskipun beberapa kapal mengorganisir barbekyu pantai yang menampilkan makanan laut yang bersumber dari lokal — ikan bakar, udang, dan kepiting yang disiapkan dengan sederhana di atas arang. Perairan pesisir menghasilkan banyak ikan terumbu, dan komunitas Papuan lokal yang kadang-kadang mengunjungi pantai ini mempertahankan tradisi memancing yang telah menopang mereka selama ribuan tahun. Rasa ikan yang dibakar sesaat setelah ditangkap, di pantai yang dikelilingi oleh hutan hujan yang tak terputus, mendefinisikan konsep kesegaran.
Lingkungan laut di sekitar tanjung ini sangat spektakuler. Terumbu karang, yang sebagian besar tidak rusak oleh penangkapan ikan komersial atau pembangunan pesisir, mendukung keragaman spesies yang mencerminkan posisi wilayah ini dalam Segitiga Karang — pusat dari keanekaragaman hayati laut global. Karang keras dan lunak menciptakan taman bawah laut yang luar biasa dengan warna dan kompleksitas yang menakjubkan, dihuni oleh kawanan fusilier, anthias, dan ikan kupu-kupu, bersama dengan spesies yang lebih besar termasuk hiu terumbu, Napoleon wrasse, dan manta ray. Jarak pandang di perairan ini, yang tidak terpengaruh oleh limpasan pertanian atau polusi perkotaan, sering kali melebihi 30 meter.
Tanjung Mannguar hanya dapat diakses melalui kapal ekspedisi, biasanya dalam rute yang menjelajahi Papua dan kepulauan Indonesia timur. Musim kunjungan bertepatan dengan bulan-bulan kering dari September hingga April, ketika kondisi laut paling mendukung untuk pendaratan Zodiac dan operasi snorkeling. Jarak lokasi ini berarti bahwa kunjungan sangat jarang — mungkin hanya segelintir kapal yang singgah setiap tahun — dan tidak adanya infrastruktur wisata memastikan bahwa setiap pertemuan dengan garis pantai ini terasa benar-benar eksploratif. Bagi para naturalis dan penyelam, Tanjung Mannguar mewakili salah satu perbatasan terakhir dari keanekaragaman hayati laut dan darat tropis.