
Jepang
354 voyages
Tidak ada kota di dunia yang memikul beban satu momen seperti Hiroshima. Pada pukul 08:15 pagi tanggal 6 Agustus 1945, sebuah bom uranium yang dijuluki "Little Boy" meledak 580 meter di atas pusat kota, membunuh sekitar 80.000 orang secara instan dan mengubah segalanya dalam radius dua kilometer menjadi abu dan puing-puing. Namun, mengunjungi Hiroshima hari ini adalah menyaksikan salah satu tindakan pembaruan paling luar biasa umat manusia — sebuah kota yang memilih bukan kepahitan tetapi perdamaian, bukan kehancuran tetapi reinvention, dan kini berdiri sebagai metropolis yang hidup, berpandangan ke depan dengan pesan yang perlu didengar oleh seluruh dunia.
Taman Peringatan Perdamaian, yang terletak di sebuah pulau hijau di pertemuan cabang Sungai Ota, adalah pusat emosional Hiroshima dan merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Kubah skeletal dari bekas Balai Promosi Industri Prefektur — yang kini dikenal sebagai A-Bomb Dome — berdiri persis seperti saat setelah peristiwa tersebut, sebuah pengingat yang menghantui yang terpelihara selamanya. Di dekatnya, Museum Peringatan Perdamaian menceritakan kisah tersebut dengan kejujuran yang tak tergoyahkan: pakaian yang hangus, jam yang terhenti, surat-surat tulisan tangan. Cenotaph membingkai Api Perdamaian, yang akan menyala hingga senjata nuklir terakhir di bumi dihancurkan. Tepat di utara, Monumen Perdamaian Anak-anak menghormati Sadako Sasaki, gadis muda yang percaya bahwa melipat seribu burung kertas akan menyembuhkan leukemia yang disebabkan oleh radiasi. Para pengunjung masih menggantungkan rangkaian burung origami berwarna-warni di dasar patung tersebut, sebuah bukti harapan yang terus berkembang.
Di balik memorial, Hiroshima adalah kota yang tahu cara hidup dengan baik. Hidangan khasnya adalah okonomiyaki — pancake berlapis gurih yang terbuat dari adonan, kol, mie, daging babi, dan telur, dimasak di atas panggangan yang mendesis dan diselesaikan dengan saus manis-asam. Tempat terbaik untuk mencobanya adalah Okonomimura, sebuah gedung makanan bertingkat di dekat pusat kota di mana puluhan kios kecil bersaing untuk mendapatkan loyalitas Anda. Hiroshima juga terkenal dengan tiramnya, yang dipanen dari perairan bersih dan dingin Laut Pedalaman dan disajikan dalam keadaan dipanggang, digoreng, atau mentah di izakaya tepi pelabuhan. Padukan dengan segelas sake junmai lokal dari salah satu pabrik kerajinan di prefektur ini, dan Anda akan mendapatkan hidangan yang sebanding dengan apa pun di Osaka atau Tokyo.
Perjalanan feri singkat dari pelabuhan Hiroshima membawa Anda ke Miyajima, yang secara resmi dikenal sebagai Itsukushima, salah satu dari tiga pemandangan paling terkenal di Jepang. Gerbang Otorii berwarna vermilion tampak melayang di permukaan laut saat pasang tinggi — sebuah gambar yang begitu ikonik sehingga menjadi sinonim dengan Jepang itu sendiri. Di belakangnya, Kuil Itsukushima, situs UNESCO lainnya, menjulang di atas tanah pasang surut dengan tiang penyangga, arsitekturnya merupakan mahakarya keanggunan periode Heian. Rusa berkeliaran bebas di jalanan pulau, dan lereng-lereng yang dipenuhi pohon maple di Gunung Misen menawarkan jalur pendakian dengan pemandangan melintasi seluruh Laut Pedalaman. Jika Anda berkunjung saat musim bunga sakura, pemandangan kelopak merah muda yang melayang di atas air menuju gerbang merah adalah sesuatu yang tak tertandingi.
Hiroshima dilayani oleh Celebrity Cruises, Cunard, Holland America Line, Princess Cruises, dan Windstar Cruises dalam rute Jepang dan Asia-Pasifik mereka. Kapal biasanya berlabuh di Pelabuhan Hiroshima atau di dekat Kure, dari mana pusat kota dapat dengan mudah dijangkau dengan shuttle, trem, atau taksi. Musim semi (Maret hingga Mei) membawa bunga sakura dan suhu yang sejuk, sementara musim gugur (Oktober hingga November) membakar peta-peta Miyajima dalam nuansa merah dan emas. Hiroshima meminta sesuatu dari setiap pengunjung — untuk mengingat, untuk merenung, dan kemudian melangkah kembali ke sinar matahari kota yang memilih untuk memulai kembali.


