
Jepang
11 voyages
Di pantai barat Kyushu, pulau terbesar ketiga Jepang, Kumamoto adalah kota kastil yang megah yang berfungsi sebagai gerbang menuju salah satu lanskap vulkanik paling spektakuler di dunia. Kastil yang megah, tradisi kuliner yang kaya, dan kedekatannya dengan kaldera aktif Gunung Aso menciptakan kombinasi kedalaman budaya dan drama alam yang menjadikan Kumamoto salah satu destinasi Jepang yang paling memuaskan namun kurang dikunjungi.
Kastil Kumamoto, yang dianggap sejajar dengan Himeji dan Matsumoto sebagai salah satu dari tiga kastil utama Jepang, dibangun pada tahun 1607 oleh pejuang legendaris Kato Kiyomasa. Dinding batu raksasanya, yang dibangun dengan lengkungan cerdas ke dalam yang dikenal sebagai musha-gaeshi (penolak pejuang), dan sistem gerbang serta lorong pertahanan yang rumit mewakili puncak teknik rekayasa kastil Jepang. Kastil ini mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi pada tahun 2016, dan pemulihan yang sedang berlangsung — sebuah proyek multi-dekade yang menggunakan teknik konstruksi tradisional — memberikan jendela yang menarik ke dalam kerajinan Jepang dan komitmen mendalam bangsa ini untuk melestarikan warisan budayanya.
Gunung Aso, yang terletak sekitar enam puluh kilometer di sebelah timur kota, memiliki kaldera terbesar di Jepang dan salah satu yang terbesar di dunia — sebuah cekungan vulkanik yang luas dengan panjang dua puluh lima kilometer dari utara ke selatan, di mana seluruh kota, sawah, dan lahan penggembalaan hidup berdampingan dengan kerucut vulkanik aktif yang secara teratur mengeluarkan asap belerang. Padang rumput Kusasenrigahama, sebuah hamparan hijau yang luas di dalam kaldera, menawarkan pengalaman berkuda dengan kawah yang mengeluarkan asap sebagai latar belakang — sebuah pemandangan yang hampir surreal dalam perbandingan. Ketika kondisi memungkinkan, pengunjung dapat mendekati tepi kawah Nakadake, puncak aktif, untuk menatap danau asam berwarna turquoise yang mendidih dan uap.
Identitas kuliner Kumamoto tegas dan khas. Basashi — sashimi daging kuda mentah, disajikan tipis dengan jahe, bawang putih, dan kecap manis — adalah hidangan khas kota ini dan sebuah delicacy yang tidak ditemukan di tempat lain di Jepang dengan kualitas dan tradisi seperti ini. Ramen Kumamoto, yang ditandai dengan kaldu tulang babi yang kaya yang dibumbui dengan minyak bawang putih dan disajikan dengan sayuran mustard acar, telah mendapatkan pengikut setia di kalangan penggemar ramen. Pedesaan sekitarnya menghasilkan buah-buahan luar biasa — terutama sitrun Dekopon, hibrida tanpa biji yang memiliki rasa manis luar biasa dan telah menjadi barang hadiah mewah di seluruh Jepang.
Kapal pesiar berlabuh di pelabuhan Yatsushiro yang terdekat atau di Pelabuhan Kumamoto, dengan pusat kota dapat diakses melalui bus antar-jemput atau bus ekskursi. Kastil dan atraksi kota dapat dijelajahi dengan nyaman dalam setengah hari, sementara ekskursi sehari penuh ke Gunung Aso sangat dianjurkan. Musim semi (Maret-Mei) membawa bunga sakura yang mengubah halaman kastil, sementara musim gugur (Oktober-November) melukis padang rumput kaldera dengan nuansa emas. Musim panas panas dan lembab, sementara musim dingin cukup sejuk menurut standar Jepang — garis lintang selatan Kyushu memastikan suhu yang nyaman sepanjang tahun.
