
Jepang
53 voyages
Okinawa menempati tempat yang unik dalam imajinasi Jepang—sebagian surga tropis, sebagian lagi sebagai penyimpan kehidupan Kerajaan Ryukyu, sebuah peradaban yang berkembang secara mandiri selama hampir lima abad sebelum dianeksasi oleh Jepang pada tahun 1879. Orang Ryukyu adalah pelaut dan diplomat ulung, menjaga hubungan perdagangan dengan Tiongkok, Korea, dan Asia Tenggara sambil mengembangkan budaya yang berbeda dari Jepang daratan dalam bahasa, musik, dan seni bela diri. Puing-puing Kastil Shuri, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO yang terletak di atas Naha, masih mengingatkan kita pada kemegahan sebuah istana yang pernah menyaingi istana mana pun di Asia Timur, bahkan setelah penghancuran yang menghancurkan dalam Perang Dunia II dan rekonstruksi yang menyusul.
Okinawa modern berdenyut dengan energi yang sepenuhnya miliknya sendiri. Jalan Kokusai di Naha—Jalan Internasional—adalah koridor sepanjang satu mil yang dipenuhi toko-toko, izakaya, dan tempat musik live di mana suara sanshin (alat musik Okinawa yang memiliki tiga senar) mengalun dari pintu-pintu pada setiap jam. Namun, cukup melangkah satu blok dari jalan utama dan Anda akan menemukan lingkungan yang tenang di mana para penduduk lanjut usia menjalankan ritual harian yang diyakini telah menjadikan Okinawa salah satu Zona Biru di dunia, tempat di mana orang-orang secara rutin hidup lebih dari 100 tahun. Konsep ikigai—sebuah alasan untuk hidup—meresap ke dalam segala hal di sini, mulai dari nenek yang merawat kebunnya hingga pengrajin keramik master di desa keramik Tsuboya.
Masakan Okinawa sangat berbeda dari makanan Jepang di daratan, mencerminkan ratusan tahun pengaruh Tiongkok dan Asia Tenggara. Rafute, perut babi yang direbus selama berjam-jam dalam awamori (minuman beralkohol khas Okinawa), kecap, dan gula merah, meleleh pada sentuhan yang paling lembut. Goya champuru—sebuah tumisan dari pare, tahu, telur, dan babi—adalah hidangan rumahan yang paling khas, kaya akan nutrisi yang konon memberi kekuatan pada umur panjang legendaris pulau ini. Soba di sini berarti sesuatu yang sama sekali berbeda: mie gandum tebal dalam kaldu babi dan bonito, ditambah dengan iga babi yang empuk. Dan kemudian ada taco rice, sebuah fusi yang sangat tidak ironis yang lahir dari kehadiran militer Amerika—daging sapi giling yang dibumbui, selada, keju, dan salsa di atas nasi yang mengepul.
Di luar Naha, pulau utama Okinawa dan kepulauan sekitarnya menyimpan beberapa pemandangan alam paling luar biasa di Jepang. Kepulauan Kerama, hanya tiga puluh menit dengan feri cepat, memiliki perairan yang begitu jernih sehingga mendapatkan julukan "Kerama Blue," dengan penyu laut meluncur di atas terumbu karang yang terlihat dari permukaan. Formasi tebing di Tanjung Manzamo membingkai Laut Cina Timur dalam lengkungan alami yang dramatis. Hutan Yanbaru di utara, yang merupakan Situs Warisan Alam UNESCO, melindungi spesies endemik termasuk rail Okinawa, burung yang tidak bisa terbang yang ditemukan hanya pada tahun 1981. Untuk sejarah, Taman Peringatan Perdamaian Okinawa menawarkan penghormatan yang sangat mengharukan kepada Pertempuran Okinawa, salah satu pertempuran paling menghancurkan dalam Perang Pasifik.
Holland America Line menyertakan Okinawa dalam beberapa rute Asia terpilih, menawarkan penumpang kesempatan langka untuk merasakan perbatasan subtropis Jepang. Kapal-kapal berlabuh di Pelabuhan Naha, yang terletak strategis dekat pusat kota dan terhubung ke Jalan Kokusai melalui monorel. Jendela kunjungan yang optimal berlangsung dari Maret hingga Mei, ketika bunga sakura (yang mekar di sini sebulan penuh sebelum Tokyo) melukis pulau ini dengan nuansa merah muda, dan suhu hangat tanpa kelembapan menyengat musim panas. Musim taifun berlangsung dari Juni hingga Oktober, menjadikan musim semi dan musim gugur sebagai periode paling dapat diandalkan untuk pelayaran di laut yang tenang. Di Okinawa, Jepang menunjukkan wajah yang jarang diperlihatkan kepada dunia—lebih hangat, lebih liar, dan jauh lebih kompleks daripada yang bisa disarankan oleh daratan utama saja.

