
Jepang
Toba, Japan
81 voyages
Toba menempati posisi istimewa di Semenanjung Shima, Prefektur Mie, di mana Arus Kuroshio yang hangat mengalir melewati pantai Pasifik Jepang dan menciptakan kondisi yang telah mendukung salah satu budaya maritim paling menarik di negara ini selama ribuan tahun. Kota kecil ini, dengan sekitar 18.000 penduduk, paling dikenal sebagai tempat lahirnya budidaya mutiara berkualitas—di sinilah, pada tahun 1893, Mikimoto Kōkichi berhasil membudidayakan mutiara setengah bulat pertama, sebuah pencapaian yang akan merevolusi industri perhiasan global dan mengubah Toba dari pelabuhan ikan yang sederhana menjadi destinasi terkenal internasional. Namun, hubungan kota ini dengan laut jauh lebih dalam daripada sekadar mutiara, berakar pada tradisi kuno Ama—perempuan penyelam bebas yang telah memanen abalon, landak laut, dan rumput laut dari perairan ini selama lebih dari dua ribu tahun.
Ama divers adalah salah satu tradisi budaya yang paling menakjubkan yang masih bertahan di Jepang. Bekerja tanpa tabung oksigen, para wanita ini—beberapa di antaranya sudah berusia tujuh puluhan—turun ke kedalaman hingga dua puluh meter, menahan napas selama hingga dua menit saat mereka mengambil kerang dari dasar laut berbatu. Suara khas yang mereka hasilkan saat muncul ke permukaan, yang disebut isobue, telah menggema di teluk-teluk Toba selama beberapa generasi. Pengunjung dapat bertemu dengan para penyelam Ama yang aktif di gubuk-gubuk tepi laut yang disebut amagoya, di mana para wanita memanggang hasil tangkapan mereka di atas api arang dan berbagi cerita tentang kerajinan mereka. Museum Laut Toba menyediakan konteks yang komprehensif, menelusuri tradisi Ama dan budaya maritim Jepang yang lebih luas melalui koleksi luar biasa perahu, alat, dan pameran etnografi yang tersebar di beberapa bangunan di sebuah tanjung yang menghadap ke Teluk Toba.
Tradisi kuliner Toba, tidak mengherankan, didominasi oleh makanan laut luar biasa dari Semenanjung Shima. Ise-ebi (lobster berduri Jepang) adalah delicacy paling berharga di daerah ini, disajikan sebagai sashimi yang begitu segar hingga masih bergerak, atau dipanggang dengan glasir mirin dan kecap. Abalon, yang dipanen oleh penyelam Ama, disiapkan dalam berbagai cara—dipanggang di cangkangnya, direbus dalam dashi, atau diiris tipis seperti sashimi. Kerang dari Teluk Matoya yang berdekatan dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Jepang, tersedia dalam keadaan mentah, dipanggang, atau digoreng pada bulan-bulan musim dingin. Tekone-zushi, variasi sushi regional yang menampilkan bonito yang dimarinasi ditekan di atas nasi, adalah spesialisasi makan siang yang memuaskan. Untuk pencuci mulut, Akafuku mochi—kue beras lembut yang dilapisi pasta kacang merah manis—telah diproduksi di Ise yang berdekatan sejak tahun 1707 dan tetap menjadi permen paling dicintai di daerah ini.
Kedekatan Toba dengan Ise, rumah bagi Kuil Agung Ise, menambahkan dimensi spiritual yang mendalam pada setiap kunjungan. Ise Jingū, situs paling suci dalam Shinto, terletak hanya dua puluh menit berkendara dari Toba dan terdiri dari dua kompleks kuil utama yang dikelilingi oleh hutan cedar Jepang purba. Dengan cara yang unik, kuil-kuil ini dibangun kembali sepenuhnya setiap dua puluh tahun menggunakan teknik tradisional—sebuah praktik yang telah dipertahankan selama lebih dari 1.300 tahun yang memastikan bangunan-bangunan tersebut selalu tampak kuno dan selalu baru. Pulau Mutiara Mikimoto, yang terhubung ke pusat kota melalui jembatan, menawarkan tur ke fasilitas budidaya mutiara asli serta demonstrasi menyelam Ama dan museum perhiasan serta seni mutiara. Pulau-pulau di Teluk Toba, yang dapat diakses dengan feri, menyediakan pantai-pantai yang tenang, jalur pejalan kaki, dan taman laut Iruka-jima (Pulau Dolphin).
Holland America Line dan Princess Cruises menyertakan Toba dalam rute Jepang mereka, dengan kapal berlabuh di Teluk Toba dan mengangkut penumpang ke dermaga kota. Ukuran pelabuhan yang kompak berarti semua atraksi utama—Pulau Mutiara Mikimoto, Museum Laut, dan gubuk menyelam Ama—dapat diakses dengan berjalan kaki atau dengan taksi singkat. Maret hingga Mei dan September hingga November menawarkan kondisi yang paling menyenangkan, dengan suhu yang nyaman dan kelembapan yang lebih rendah dibandingkan bulan-bulan musim panas yang lembap. Musim lobster Ise-ebi berlangsung dari Oktober hingga April, menjadikan musim gugur dan dingin sangat menguntungkan bagi para pelancong yang fokus pada kuliner. Toba menawarkan pengalaman yang tidak ada di tempat lain di Bumi: sebuah tempat di mana tradisi mendalam laut—menyelam, budidaya mutiara, dan penghormatan terhadap hasil laut—tetap menjadi praktik hidup daripada sekadar pameran museum.
