Malaysia
Sukau
Di dalam dataran banjir Sungai Kinabatangan, di mana hutan hujan dataran rendah Borneo bertemu dengan air cokelat Sabah yang terpanjang, desa kecil Sukau berfungsi sebagai gerbang menuju salah satu koridor satwa liar yang paling luar biasa di Asia Tenggara. Lower Kinabatangan, sebuah wilayah danau oxbow, rawa bakau, dan hutan tepi sungai, mendukung konsentrasi satwa liar Borneo yang begitu padat dan dapat diakses sehingga dijuluki Serengeti Borneo. Di sinilah, sepanjang aliran sungai yang lambat, spesies paling ikonik Borneo — orangutan, gajah kerdil, dan monyet proboscis — dapat diamati dari kenyamanan relatif sebuah perahu sungai.
Karakter Sukau tak terpisahkan dari sungai yang mendefinisikan keberadaannya. Desa ini membentang di sepanjang tepi Kinabatangan, dengan rumah-rumah kayunya dan pondok-pondok hutan menghadap ke jalur air yang sekaligus berfungsi sebagai jalan raya, sumber air, dan sumber ikan yang menopang komunitas lokal. Pelayaran sungai pagi dan sore memberikan pengalaman melihat satwa liar yang utama: pemandu menavigasi perahu bermotor melalui kanopi hutan yang menjulang, memindai pohon-pohon untuk mencari bulu merah yang khas dari orangutan, siluet perut buncit dari monyet proboscis, dan burung enggang yang bersarang di pohon dipterokarpa yang menjulang tinggi.
Pertemuan satwa liar di sepanjang Kinabatangan sangat luar biasa baik dalam variasi maupun frekuensinya. Orangutan Borneo — salah satu dari hanya tiga spesies kera besar yang masih ada — meluncur melalui kanopi di tepi sungai, sarang mereka terlihat di puncak pohon. Monyet proboscis, yang endemik di Borneo dan langsung dikenali oleh hidung besar dan menggantung milik jantan, berkumpul di pohon-pohon tepi sungai saat senja, siluet mereka terlihat di balik matahari terbenam. Gajah kerdil Borneo — subspesies terkecil dari gajah Asia, dengan telinga besar dan sifat lembut — mengarungi air dangkal dalam kelompok keluarga. Krokodil muara berpatroli di perairan keruh, dan biawak berjemur di tepi lumpur. Kehidupan burung sangat luar biasa: delapan spesies burung enggang, termasuk burung enggang helm yang terancam punah, menghuni kanopi hutan.
Pengalaman kuliner di Sukau dibentuk oleh pondok-pondok hutan yang menampung pengunjung di sepanjang tepi sungai. Masakan Malaysia dan Sabah — nasi lemak, rendang, dan ikan bakar yang menjadi makanan pokok Kinabatangan — disajikan di area makan terbuka yang menghadap ke sungai. Kualitas masakan di pondok-pondok yang lebih baik ternyata sangat tinggi, dengan koki yang memanfaatkan bahan-bahan tropis melimpah dari daerah ini: serai, lengkuas, santan, dan berbagai sambal yang menyertai setiap hidangan Malaysia. Makan malam diiringi dengan simfoni hutan hujan — suara siamang, kicauan serangga, dan sesekali percikan buaya yang masuk ke dalam air.
Sukau dapat diakses melalui jalan darat dari Sandakan (sekitar dua jam) atau Kota Kinabalu (sekitar enam jam). Sebagian besar pengunjung menginap di salah satu pondok tepi sungai yang menawarkan paket all-inclusive termasuk pelayaran sungai, berjalan di hutan, dan makanan. Waktu terbaik untuk melihat satwa liar terjadi selama musim kering dari Maret hingga Oktober, meskipun satwa liar di Kinabatangan hadir sepanjang tahun. Sungai dapat meluap secara dramatis selama musim hujan, yang mungkin membatasi akses tetapi juga menciptakan peluang unik untuk melihat satwa liar yang terkonsentrasi di tanah yang lebih tinggi. Bagi mereka yang mencari pertemuan dengan satwa liar paling spektakuler di Borneo dalam suasana hutan hujan yang sejati, Sukau menyediakan pengalaman yang setara dengan destinasi satwa liar mana pun di Bumi.