
Maroko
Rabat, Morocco
46 voyages
Rabat adalah ibu kota yang lebih tenang—pusat administratif Maroko dan tempat kerajaan, sebuah kota yang menggantikan kelebihan indera Marrakech dengan keanggunan yang terjaga, mencerminkan statusnya sebagai rumah bagi raja. Terletak di muara Sungai Bou Regreg di pantai Atlantik, Rabat telah menjadi pusat kekuasaan sejak dinasti Almohad membangun Menara Hassan pada abad kedua belas—sebuah menara yang belum selesai yang dimaksudkan untuk menjadi masjid terbesar di dunia. Menara tersebut masih berdiri, dikelilingi oleh ladang kolom-kolom yang patah, berdekatan dengan Makam Mohammed V, sebuah mahakarya arsitektur Maroko modern yang atap marmer putih dan ubin hijau menampung makam raja pendiri bangsa dan putra-putranya.
Karakter Rabat didefinisikan oleh lapisannya—Fenisia, Romawi, Arab, kolonial Prancis—masing-masing terlihat dalam kain kota ini. Kasbah des Oudaias, sebuah benteng abad kedua belas yang terletak di tebing di atas muara sungai, mengandung rumah-rumah bercat putih dengan jendela biru, taman Andalusia yang tenang, dan pemandangan melintasi muara menuju kota kuno Salé. Medina, yang lebih kecil dan kurang turis dibandingkan dengan Fez atau Marrakech, menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih santai dan tidak terbebani—barang-barang kulit berkualitas, keramik, dan karpet tersedia dengan harga yang adil tanpa tawar-menawar agresif yang menjadi ciri kota-kota yang lebih banyak dikunjungi. Ville Nouvelle, kota modern yang dibangun oleh Prancis, adalah kumpulan boulevard lebar, bangunan Art Deco, dan taman Agdal yang subur yang bersama-sama menciptakan salah satu lingkungan perkotaan yang paling menyenangkan di Afrika Utara.
Masakan Maroko di Rabat adalah halus dan bervariasi, mencerminkan karakter kosmopolitan kota ini. Tagine—sebuah stew yang dimasak perlahan yang dinamai dari wadah tanah liat berbentuk kerucut tempat ia disiapkan—mencapai ekspresi paling elegan di sini: domba dengan lemon yang diawetkan dan zaitun, ayam dengan kurma dan almond, ikan dengan saus chermoula. Couscous, yang disajikan secara tradisional pada hari Jumat, adalah hidangan komunal dari semolina kukus yang ditumpuk dengan sayuran dan daging, yang merupakan makanan sekaligus ritual sosial. Pastilla (atau bastilla), sebuah pai berlapis yang terbuat dari merpati atau ayam, almond, telur, dan kayu manis yang dibungkus dalam adonan warqa dan ditaburi gula bubuk, mewakili masakan Maroko dalam bentuknya yang paling kompleks dan memuaskan. Budaya kafe sangat kuat—kafe-kafe di Rabat menyajikan teh mint dengan tuangan tinggi yang bersifat seremonial, yang merupakan pertunjukan sekaligus keramahan, dan toko kue menghasilkan kue-kue Franco-Maroko dengan kualitas luar biasa.
Kekayaan arkeologis dan budaya yang mengelilingi Rabat sangatlah luar biasa. Chellah, sebuah nekropolis berpagar di pinggiran kota, menggabungkan reruntuhan Romawi (dari kota kuno Sala Colonia) dengan pemakaman Islam abad pertengahan dalam suasana taman di mana bangau bersarang di atas menara dan pohon jeruk tumbuh di antara nisan—ini adalah salah satu situs yang paling atmosferik di Maroko. Salé, di seberang sungai, mempertahankan medina yang kurang dipugar dan lebih otentik Maroko dibandingkan dengan Rabat. Museum Seni Modern dan Kontemporer Mohammed VI, yang dibuka pada tahun 2014, adalah museum pertama dari jenisnya di dunia Arab dan menyajikan seni Maroko dari abad kedua puluh hingga saat ini dengan cakupan yang mengesankan.
Rabat berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan untuk rute pelayaran di pantai Atlantik dan Mediterania Barat, dengan kapal yang berlabuh di pelabuhan yang mudah dijangkau dari pusat kota. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah dari Maret hingga Mei dan September hingga November, ketika iklim Atlantik menghadirkan hari-hari hangat yang cerah dan malam yang nyaman. Musim panas membawa panas, tetapi angin laut mengurangi suhu. Musim dingin bersifat sejuk dan hijau, dengan hujan sesekali—taman-taman berada dalam kondisi paling subur dan tempat-tempat wisata paling sedikit dikunjungi.








