
Uni Emirat Arab
679 voyages
Hampir setengah abad yang lalu, Abu Dhabi adalah sebuah desa penangkap mutiara yang sederhana dengan menara pengawas dari batu karang dan gubuk barasti yang menghadap ke sebuah aliran pasang. Penemuan minyak pada tahun 1958 di bawah pasir Murban memicu salah satu metamorfosis perkotaan paling dramatis dalam sejarah, mengubah pemukiman pesisir yang tenang menjadi ibu kota yang berkilau dari Uni Emirat Arab — sebuah kota di mana warisan Bedouin dan ambisi futuristik hidup berdampingan dalam ketegangan yang mencolok.
Langit Abu Dhabi mungkin dipenuhi dengan gedung-gedung kaca, tetapi jiwanya terletak pada ruang-ruang yang indah dengan sengaja. Masjid Agung Sheikh Zayed, dengan delapan puluh dua kubah, lebih dari seribu kolom yang dilapisi marmer Makedonia, dan karpet terbesar di dunia yang dijalin tangan, berdiri sebagai monumen seni Islam yang membuat bahkan para pelancong paling berpengalaman terpesona. Di Pulau Saadiyat, Louvre Abu Dhabi — karya agung Jean Nouvel dengan layar geometris yang saling terkait — menyaring cahaya gurun menjadi hujan pola bercahaya di galeri yang menampung karya-karya dari Mesopotamia kuno hingga para maestro kontemporer. Corniche, sebuah promenade tepi laut sepanjang delapan kilometer, menawarkan keindahan yang lebih sehari-hari: keluarga-keluarga yang berjalan melewati taman-taman terawat dan laguna berwarna turquoise sementara dhow meluncur diam-diam di pelabuhan di luar.
Lanskap kuliner kota ini mencerminkan populasi kosmopolitan yang ada. Di pasar ikan Mina Zayed, para nelayan Emirati menurunkan hasil tangkapan pagi berupa hammour, safi, dan sheri — ikan terumbu yang beberapa jam kemudian disajikan sebagai grill gaya masgouf di restoran tradisional di sepanjang Pulau Al Maryah. Luqaimat, dumpling emas yang disiram dengan sirup kurma dan wijen, adalah manisan khas Emirati, sementara machboos — nasi berbumbu harum dengan daging domba atau ayam — menjadi hidangan utama di meja keluarga di seluruh emirat. Souk Al Mina menawarkan pengalaman sensorik yang mendalam: gunung-gunung safron, kemenyan, dan jeruk nipis kering di samping kios-kios tekstil anyaman dan botol parfum yang megah.
Kemungkinan perjalanan sehari membentang ke segala arah. Pulau Sir Bani Yas, yang dapat dijangkau dalam waktu sembilan puluh menit berkendara dan perjalanan feri singkat ke arah barat daya, menyimpan sebuah cagar alam di mana oryx Arab, gazel, dan cheetah berkeliaran bebas — sebuah proyek penuh cinta dari almarhum Sheikh Zayed. Oase Al Ain, yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO dua jam ke timur, mengungkapkan sistem irigasi falaj berusia 3.000 tahun yang menaungi pohon kurma di bawah dinding bata lumpur kuno. Untuk merasakan keheningan Empty Quarter, Oase Liwa terletak tiga jam ke selatan, di mana bukit pasir terakota menjulang setinggi tiga ratus meter — beberapa di antaranya adalah yang tertinggi di dunia.
Abu Dhabi telah muncul sebagai pusat pelayaran utama di Teluk, menyambut kapal-kapal dari AIDA, Celestyal Cruises, Costa Cruises, Crystal Cruises, Explora Journeys, Hapag-Lloyd Cruises, MSC Cruises, Norwegian Cruise Line, Oceania Cruises, Regent Seven Seas Cruises, Royal Caribbean, Silversea, TUI Cruises Mein Schiff, dan Windstar Cruises. Pelabuhan-pelabuhan terdekat termasuk Fujairah, Pulau Sir Bani Yas, Khor al Fakkan, dan Ras Al Khaimah. Musim pelayaran musim dingin dari November hingga April menyuguhkan hari-hari yang hangat dan menyenangkan dengan suhu sekitar dua puluh derajat Celsius, ideal untuk menjelajahi kota ini di mana gurun kuno bertemu dengan Teluk Arab.








