Amerika Serikat
St Matthew Island, Alaska
Muncul dari luas kelabu Laut Bering sekitar 250 mil barat daratan Alaska, Pulau St. Matthew adalah salah satu tempat paling terpencil dan paling sedikit dikunjungi di Amerika Serikat — sebuah fragmen vulkanik yang tergerus angin yang tidak pernah mendukung pemukiman manusia permanen dan kini berfungsi sebagai tempat perlindungan alam yang hampir terasing dari dunia. Sebagai bagian dari Alaska Maritime National Wildlife Refuge, pulau ini dan pendampingnya yang lebih kecil, Pulau Hall, merupakan suaka bagi burung laut, mamalia laut, dan bunting McKay yang unik — burung penyanyi yang tidak ditemukan di tempat lain di Bumi.
Kisah paling terkenal dari pulau ini adalah sebuah cerita ekologis yang penuh peringatan. Pada tahun 1944, Penjaga Pantai AS memperkenalkan 29 rusa kutub ke St. Matthew sebagai sumber makanan darurat untuk sebuah stasiun kecil. Ketika stasiun tersebut ditinggalkan, populasi rusa kutub meledak menjadi lebih dari 6.000, menghabiskan tutupan lichen pulau tersebut, dan kemudian jatuh secara katastrofik menjadi hanya 42 ekor selama musim dingin yang keras pada tahun 1963-64. Pada tahun 1966, hanya sisa-sisa kerangka dari eksperimen yang gagal dalam manipulasi ekologis yang berserakan di tundra — sebuah pelajaran yang kuat tentang konsekuensi dari mengganggu ekosistem yang terisolasi.
Tidak ada fasilitas apapun di Pulau St. Matthew. Kapal ekspedisi yang berlabuh di sini — dan jumlahnya sangat sedikit, mengingat keterpencilan ekstrem pulau ini dan cuacanya yang tidak dapat diprediksi — menyediakan semua kebutuhan. Pendaratan dengan Zodiac, ketika kondisi memungkinkan, membawa pengunjung ke pantai berpasir vulkanik di mana kesunyian hampir dapat dirasakan. Vegetasi pulau ini, yang perlahan-lahan pulih dari kehancuran akibat rusa, terdiri dari rumput tundra, bunga liar, dan lumut yang melukis lanskap dalam nuansa hijau dan emas yang lembut selama musim panas yang singkat.
Keanekaragaman hayati, meskipun — atau mungkin karena — isolasi pulau ini, sangat luar biasa. Koloni besar fulmar utara, murres, dan auklets berkembang biak di tebing-tebing, sementara bunting McKay yang endemik — burung penyanyi berwarna putih salju yang sedikit lebih besar dari serpihan salju — bergetar di antara tussocks dengan aura percaya diri yang menguasai. Rubah Arktik, satu-satunya predator darat di pulau ini, sangat mudah didekati, karena jarang berinteraksi dengan manusia. Perairan sekitarnya mendukung walrus, singa laut Steller, dan populasi musiman paus abu-abu, sementara beruang kutub kadang-kadang muncul di atas es terapung dari utara.
Pulau St. Matthew hanya dapat diakses melalui kapal ekspedisi, dan kunjungan ke sana sangat jarang — mungkin hanya segelintir kapal yang singgah setiap tahun, biasanya antara bulan Juni dan Agustus. Laut Bering terkenal dengan ombaknya yang ganas, dan kondisi pendaratan harus ideal agar Zodiak dapat beroperasi dengan aman. Bagi mereka yang melakukan perjalanan ini, St. Matthew menawarkan sesuatu yang semakin berharga di dunia modern: sebuah pertemuan yang tulus dengan alam liar yang tidak terpengaruh oleh infrastruktur, interpretasi, atau kehadiran manusia lain. Ini adalah tempat di mana ketidakpedulian planet terhadap spesies kita terasa nyata dan, secara paradoks, sangat menyegarkan.